Ketika Upaya Penanggulangan Justru Kian Lapangkan Jalan Penularan (Bagian Kedua)

Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia secara umum mengadopsi strategi yang digunakan oleh UNAIDS. Lembaga internasional ini menetapkan beberapa langkah penanggulangan HIV/AIDS, antara lain: 100% kondom (kondomisasi) untuk memutus transmisi melalui seks bebas, serta subsitusi metadon dan pembagian jarum suntik steril sebagai upaya pengurangan dampak buruk (harm reduction) penggunaan narkoba suntik. Upaya penanggulangan HIV/AIDS versi UNAIDS ini telah menjadi kebijakan nasional yang diadopsi KPAN. Benarkah langkah ini ampuh untuk memutus transmisi penyakit pembunuh ini?

 

Kondomisasi

Kondomisasi (100% kondom) merupakan salah satu butir dari strategi nasional tersebut yang telah ditetapkan sejak tahun 1994 hingga sekarang.[1],[2] Kampanye pengunaan kondom awalnya dipopulerkan melalui kampanye ABCD, meliputi Abstinentia, Be faithful, Condom dan no Drug.[3]

Saat ini kampanye penggunaan kondom semakin gencar dilakukan melalui berbagai media, seperti stasiun TV nasional, seminar, juga penerbitan buklet,[4],[5] penyebaran pamflet dan stiker dengan berbagai macam slogan yang mendorong penggunaan kondom yang diopinikan sebagai ‘safe sex’.[6]Kampanye kondom tak jarang dilakukan dengan membagi-bagikan kondom secara gratis di tengah-tengah masyarakat seperti mal-mal dan supermarket. Kampanye tentang kondom juga telah masuk ke beberapa perguruan tinggi dan sekolah-sekolah. Bahkan, meskipun mengundang banyak penolakan, peluncuran program ATM kondom terus dilanjutkan. Kenyataannyausaha pemerintah untuk mengurangi penularan HIV dan PMS lainnya dengan membuat ATM kondom pun gagal. Jumlah penderita HIV/AIDS tetap meningkat tajam. Hal ini juga dinyatakan dr. Sugiri Sarief, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat dalam acara yang digelar untuk menyambut Pekan Kondom Nasional dan Hari AIDS Sedunia 2009 di Jakarta, 12 November 2009.[7]

 

Sungguh memang kondomisasi tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah penularan HIV/AIDS dan PMS lainnya. Di saat budaya kebebasan seks tumbuh subur, ketaqwaan yang kian tipis (bahkan mungkin tidak ada), kultur yang kian individualistis, kontrol masyarakat semakin lemah, kemiskinan yang kian menghimpit masyarakat dan maraknya industri prostitusi, kondomisasi jelas akan membuat masyarakat semakin berani melakukan perzinahan apalagi dengan adanya rasa aman semu yang ditanamkan dengan menggunakan kondom.

 

Mengapa bersifat semu? Karena selain seks bebas akan tetap dimurkai Allah SWT meskipun menggunakan kondom, ternyata kondom sendiri terbukti tidak mampu mencegah transmisi HIV. Hal ini karena kondom terbuat dari bahan dasar lateks (karet), yakni senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang mempunyai serat dan berpori-pori. Dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat tiap pori berukuran 70 mikron,[8] yaitu 700 kali lebih besar dari ukuran HIV-1, yang hanya berdiameter 0,1 mikron.[9] Selain itu para pemakai kondom semakin mudah terinfeksi atau menularkan karena selama proses pembuatan kondom terbentuk lubang-lubang. Terlebih lagi kondom sensitif terhadap suhu panas dan dingin,[10] sehingga 36-38% sebenarnya tidak dapat digunakan.[11] Dengan demikian, alih-alih sebagai pencegah, kondom justru mempercepat penyebaran HIV/AIDS. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan laju infeksi sehubungan dengan penggunaan kondom 13-27% lebih (Weller S, 2004).[12]

 

Di AS, kampanye kondomisasi yang dilaksanakan sejak tahun 1982 bahkan terbukti menjadi bumerang. Hal ini dikutip oleh Hawari, D (2006) dari pernyataan H. Jaffe (1995), dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (US CDC, United State Center of Diseases Control). Evaluasi yang dilakukan pada tahun 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS menjadi peringkat no 1 di AS, bukan lagi penyakit jantung dan kanker.Selain itu, kondom memang dirancang hanya untuk mencegah kehamilan, itu pun dengan tingkat kegagalan mencapai 20% (Hawari, 2006).[13]

 

Mencermati uraian di atas, jelaslah bahwa kondomisasi, apapun alasannya, sama saja dengan memfasilitasi seks bebas. Padahal, seks bebas jelas merupakan sarana penularan utama HIV/AIDS.  Seks bebas akan mengakibatkan berjangkitnya berbagai penyakit menular seksual seperti sifilis, gonore, yang juga akan meningkatkan risiko penularan HIV 100 kali, karena peradangan dan nyeri memudahkan pemindahan HIV menembus barier mukosa (Brooks, 1995). Ini belum lagi membahas berbagai dampak buruk seks bebas terhadap kehidupan sosial.  Dengan demikian, tidak heran setelah program kondomisasi dijalankan kasus HIV/AIDS justru semakin meningkat pesat. Kondomisasi hanyalah nama lain bagi penghancuran  terselubung umat manusia.

 

 

Subsitusi Metadon dan Jarum Suntik Steril

Penyebaran HIV/AIDS yang sangat cepat akhir-akhir ini diperkirakan karena penggunaan jarum suntik secara bergantian dikalangan penasun yang jumlahnya semakin banyak. Hal ini dijadikan alasan untuk mengesahkan program pengurangan dampak buruk (harm reduction) melalui pemberian jarum suntik steril dan subsitusi metadon bagi penasun.

 

Saat ini, strategi subsitusi metadon dalam bentuk Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) dan pembagian jarum suntik steril telah menjadi salah satu layanan di rumah sakit, Puskesmas dan klinik-klinik VCT (voluntary counseling and testing).Depkes menyediakan 75 rumah sakit untuk layanan CST (Care Support and Treatment), tercatat 18 Puskesmas percontohan, 260 unit layanan VCT yang tersebar di seluruh Indonesia (Stranas 2007-2010).[14]

 

Melalui layanan ini, para penasun (pengguna narkoba suntik) dapat dengan mudah memperoleh jarum suntik dan metadon dengan harga cukup murah, yaitu sekitar tujuh ribu lima ratus rupiah per butir. Kehidupan para penasun yang lebih teratur, tidak melakukan tindak kriminal selalu diopinikan untuk membenarkan upaya ini (Kompas, 16 Januari 2007).[15] Namun benarkah upaya ini akan mengurangi risiko penularan HIV/AIDS?

 

Subsitusi adalah mengganti opiat (heroin) dengan zat yang masih merupakan sintesis dan turunan opiat itu sendiri, misalnya metadon, buphrenorphine HCL, tramadol, codein dan zat lain sejenis.Subsitusi pada hakekatnya tetap membahayakan, karena semua subsitusi tersebut tetap akan menimbulkan gangguan mental,[16] termasuk metadon.  Selain itu, metadon tetap memiliki efek adiktif.[17]

 

Adapun pemberian jarum suntik steril kepada penasun agar terhindar dari penularan HIV/AIDS, jelas sulit diterima. Mengapa? Fakta menunjukkan bahwa peredaran narkoba di masyarakat berlangsung melalui jaringan mafia yang tertutup, rapi dan sulit disentuh hukum.  Jaringan tersebut bersifat internasional, terorganisir rapi dan bergerak dengan cepat.[18] Selain itu, sekali masuk perangkap mafia narkoba sulit untuk melepaskan diri. Hal ini dibuktikan oleh tingginya angka kekambuhan akibat bujukan teman-teman. Dan setiap pemakai biasanya memiliki peer group dengan anggota 9-10 orang.[19]

 

Dalam kondisi lemahnya ketaqwaan, himpitan ekonomi yang semakin berat, siapa yang bisa menjamin bahwa para pelayan penasun tidak akan “bermain mata” dengan para mafia narkoba? Bukankah bisnis haram ini menjanjikan untung yang menggiurkan? Dan bukankah ini justru membiarkan penasun sebagai penyalah guna narkoba? Siapakah yang bisa melakukan pengawasan 24 jam terhadap penasun, sehingga penasun dapat dipastikan akan menggunkan jarum sendiri? Dengan demikian, pemberian jarum suntik -meskipun steril, di tengah-tengah jeratan mafia narkoba sama saja menjerumuskan pada penyalahgunaan narkoba, sehingga jumlah penasun justru kian membengkak.

 

Adapun terkait dengan epidemi HIV/AIDS, sesungguhnya penyalahgunaan narkoba termasuk para penasun pada hakikatnya sedang mengalami gangguan mental organik dan perilaku,[20] sehingga terjadi kehilangan kontrol dan menjerumuskan para pengguna narkoba dan turunannya pada perilaku seks bebas. Perilaku seks bebas pada pasien yang mendapat terapi subsitusi metadon juga diakui oleh dokter yang berkerja pada salah satu program terapi rumatan metadon di Bandung.[21]Yang penting lagi adalah bahwa meskipun menggunakan jarum suntik steril, para pengguna narkoba tetap berisiko terjerumus pada perilaku seks bebas akibat kehilangan kontrol. Padahal, seks bebas merupakan media penularan terpenting HIV/AIDS.

 

Dengan demikian, telah jelas bahwa strategi penanggulangan HIV/AIDS melalui kondomisasi, subsitusi metadon dan pembagian jarum suntik steril merupakan strategi liberal.  Strategi itu memfasilitasi seks bebas dan penyalahgunaan narkoba, yang pada akhirnya memfasilitasi penularan HIV/AIDS itu sendiri.

 

Anti Stigmatisasi ODHA: Melindungi Hak Siapa?

Stigmatisasi dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dianggap berdampak pada tatanan sosial masyarakat yang dapat menimbulkan kerawanan sosial dan menghambat upaya penanggulangan HIV/AIDS. Untuk itulah, dalam Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS dirumuskan upaya pencegahan dan penghapusan diskriminasi terhadap ODHA. Apakah upaya ini benar-benar mendukung upaya penanggulangan HIV/AIDS, atau justru membuka celah penularan? Mari kita kritisi.

 

ODHA adalah orang yang mengidap virus ini dalam tubuhnya, yang berpotensi menularkannya kepada orang lain. Mereka terinfeksi HIV/AIDS bisa jadi akibat perilaku maksiat mereka, baik seks bebas maupun narkoba, maupun sebagai efek spiral akibat pasangan maupun ibunya mengidap penyakit ini. Sebagai manusia, ODHA, terlebih mereka yang terinfeksi akibat efek spiral penyakit ini, jelas merupakan individu yang memiliki hak yang sama dengan orang lain yang sehat. Mereka adalah orang sakit, sama seperti orang lain yang menderita penyakit serius lainnya, yang berhak atas pengobatan dan dukungan dalam pengobatan. Ini bicara dalam subjek pasien dan hubungan yang manusiawi.

 

Yang menjadi masalah dalam program ini adalah, siapakah ODHA yang dimaksud untuk dilindungi haknya, dilarang untuk memberikan stigma dan diskriminasi atas mereka, dan bentuk perlindungan apa yang harus diberikan? Mereka adalah ODHA dari kalangan pezina, pelacur, kaum homoseks dan lesbian, serta penasun. Mereka notabene adalah pelaku maksiat, namun diposisikan ‘hanya’ sebagai orang sakit tanpa menilik bahwa perilaku mereka adalah pangkal masalah penyakit ini. Pembahasan yang digunakan hanya dari satu sisi, bahwa mereka korban, dan bukan pelaku maksiat yang dapat terus menyebarkan penyakit ini melalui kemaksiatannya. Termasuk dalam komunitas yang dilindungi dan tidak boleh didiskriminasi adalah orang-orang yang berisiko terinfeksi HIV karena termasuk komunitas pelaku maksiat ini.

 

Pada Kongres Internasional AIDS se-Asia Pacific (ICAAP) ke-9, 9-13 Agustus 2009 lalu, semakin jelas adanya perhatian khusus kepada komunitas pelaku maksiat ini. Yaitu, adanya undangan untuk perwakilan-perwakilan organisasi-organisasi pelaku seks bebas ini, sebagaimana adanya undangan untuk tokoh-tokoh masyarakat, ilmuwan, para peneliti yang berhubungan dengan HIV/AIDS. Para pelaku maksiat difasilitasi sebagai komunitas tersendiri, diberei kesempatan untuk memperluas dan memperkuat jaringan, dengan dalih pemberdayaan.

 

Selepas perhelatan akbar se-Asia Pasifik yang menghabiskan dana milyaran rupiah ini, sebuah station TV swasta yang berpengaruh melakukan wawancara khusus dengan seorang gay yang memiliki reputasi Nasional. Acara itu nampaknya untuk mengokohkan persepsi masyarakat bahwa para gay, lesbian, pelacur, pezina adalah orang-orang “baik” (bukan pelaku maksiat), yang pantas diberi ruang kehidupan yang sama dengan orang-orang baik. Yang tak kurang mengejutkan adalah diselenggarakannya kongres Organisasi Pekerja Seks (baca:pelacur) se-Indonesia  di berbagai daerah dan di tingkat nasional, serta pertemuan-pertemuan serupa yang memberikan “ruang” yang sama dengan orang-orang “baik”.

 

Kepedulian dunia terhadap para pelaku maksiat ini memang “istimewa”. Bagaimana tidak, perbuatan mereka yang jelas-jelas dibenci Allah SWT dan bertentangan dengan fitrah manusia harus dilihat sebagai perbuatan “baik” dan wajar. Masyarakat didorong menerima pelaku maksiat ini dengan dalih HAM (Hak Asasi Manusia) dan pemerintah harus memfasilitasi aktivitas yang mereka lakukan, meskipun untuk semua itu harus mengorbankan orang-orang yang baik dan sehat. Misalnya saja, hingga saat ini tidak bisa dilakukan skrining masal. Juga tidak diizinkannya melakukan tes virus HIV pada pemeriksaan kesehatan berkala dan berkesinambungan dan tes virus secara rutin pada setiap calon pengantin. Padahal, skrining masal sangat penting sebagai salah satu langkah preventif penanggulangan HIV/AIDS, demikian dinyatakan Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM (Republika, Ahad 27 Mei 2007). Hal ini karena penderita HIV/AIDS pada  stadium asimtomatik terlihat sehat-sehat saja, namun darah serta cairan tubuh penderita berpotensi menularkan HIV dan fase ini berlangsung sangat lama, yaitu 3 hingga 10 tahun,[22]  sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

 

Demikian pula, petugas VCT tidak bisa melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang diduga dan berisiko terinfeksi HIV, kecuali atas izin dan kerelaan yang bersangkutan. Hasil pemeriksaan pun harus dirahasiakan, meskipun terbukti positif mengidap HIV. Padahal pengidap HIV berpotensi menularkan HIV meskipun terlihat sehat-sehat saja (belum sampai pada fase AIDS). Upaya memotivasi setiap orang berinteraksi secara ’normal’ dengan ODHA, seperti opini “Hidup Sehat Bersama ODHA”, kadang menghilangkan sikap kehati-hatian. Ada media massa yang mengangkat pernikahan ODHA dengan individu sehat,[23] seolah mengkampanyekan bahwa interaksi intim dengan ODHA tidaklah membahayakan si sehat. Bukankah isu ini justru membahayakan orang yang sehat?

 

Demikianlah, dalih anti stigmatisasi dan diskriminasi terhadap ODHA tidak saja membuat masyarakat semakin tenggelam dalam perbuatan maksiat (seks bebas dan narkoba), namun juga kian lapang jalan HIV membantai jutaan bahkan puluhan juta orang-orang yang sehat.

 


[1] KPAN.  Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS 2003-2007.   Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.  Jakarta, 2003.

[2] KPAN.  Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS 2007-2010.   Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.  Jakarta, 2007.

[3] Depkes RI. Profil Kesehatan Reproduksi. Depkes RI. Jakarta, 2003.

[4] Anonim.  Apa sih HIV/AIDS itu? (booklet edukasi HIV/AIDS). The Global Fund. Jakarta, 2005.

[5] Anonim.   IMS itu epong sih ne? The Global Fund.  Jakarta, 2005

[6] Hawari, D.  2006.  Global Effect, HIV/AIDS, Dimensi Psikoreligi.  Balai Pustaka-FKUI.  Jakarta.

[7] ATM Kondom Gagal Kurangi Angka HIV. detikHealth. Kamis, 12 November 2009. www.health.detik.com/read/2009/11/12/175555/1240757/766/atm-kondom-gagal-kurangi-angka-hiv

 

[8] Anomalous Fatigue Behavior in Polysoprene,” Rubber Chemistry and Technology, Vol. 62, No:4, Sep.-Okt. 1989.

[9] Lytle, C. D., et al., “Filtration Sizes of Human Immunodeficiency Virus Type 1 and Surrogate Viruses Used to Test Barrier Materials,” Applied and Environmental Microbiology, Vol. 58, No: 2, Feb. 1992.

[10] Vesey, W.B., HLI Reports, Vol. 9, pp. 1-4, 1991.

[11] Collart, David G., M.D., op. cit.

[12] Weller S, Davis K. Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission (Cochrane Review). In: The Cochrane Library. Issue 2. Chichester. John Wiley & Sons. 2004

[13] Hawari D. Global Effect, HIV/AIDS, Dimensi Psikoreligi.  Balai Pustaka-FKUI.  Jakarta. 2006

[14] Priohutomo S. Kebijakan Pengendalian HIV/AIDS. Dirjen P2PL-Depkes RI. Makalah disampaikan dalam Seminar TB-HIV Sahid Jaya Hall. 11-12 Desember 2006.

[15] Terapi Metadon. Mejauhi Kematian Dini Akibat Narkoba. Kompas 16 Januari 2007.

[16] Hawari, D.  Terapi (detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantrn) Mutakhir (Sistem Terpadu) Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif Lain).  UI  Press.  Jakarta,  2004.

[17] Cara Pragmatis dan Realistis. Pikiran Rakyat Bandung. 2006.

[18] BNN.  Pengawan Narkoba di Indonesia (Laporan Tahunan).  BNN.  Jakarta, 2003.

[19] Hawari, D.  Terapi (detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantrn) Mutakhir (Sistem Terpadu) Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif Lain).  UI  Press.  Jakarta,  2004.

[20] Hawari, D.  Terapi (detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir (Sistem Terpadu) Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif Lain).  UI  Press.  Jakarta,  2004.

[21] Cara Pragmatis dan Realistis.2006.Pikiran Rakyat Bandung.

[22] Brooks, GF et al. Medical Microbiology.Ed.20th. Terjemahan.EGC:Jakarta, 1995.

[23] Kompas 24 Mei 2007. “Mudah Hidup Dengan ODHA Perempuan.”

Posted on Desember 23, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: