Bagian Keempat: Islam, Penyelamat Generasi dari Ancaman HIV dan Seks Bebas

Khilafah Penyelamat Generasi

Berbeda dengan sistem kehidupan sekuler, sistem kehidupan Islam adalah sistem kehidupan yang membebaskan manusia dari segala rasa takut, demikian pula rasa takut akibat ancaman senjata biologi AS, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS QS 24:55, yang artinya, “Allah SWT berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan akan menukar (keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.  Siapa saja yang tetap kafir sesudah janji itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.

 

Hal yang semakna juga diungkapkan Rasulullah SAW , beliau mengibaratkan sistem kehidupan Islam (Khalifah) sebagai pelindung. Yaitu pelindung dari segala yang akan membahayakan kehormatan, jiwa dan harta kaum muslimin, termasuk pelindung masyarakat dari ancaman kuman rekayasa AS, dan seks bebas, hadits itu berbunyi, yang artinya”Sesungguhnya iman (khalifah) itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya”.(HR Muslim).

Kemampuan Islam membebaskan generasi dari ancaman bahaya HIV dan seks bebas adalah pasti, yaitu karena sifatnya sebagai sistem kehidupan yang berasal dari Allah SWT Pencipta manusia, memiliki visi dan misi yang mendunia, yaitu rahmat bagi seluruh alam, penyelamat kehidupan, kehormatan, dan aqidah umat. Allah SWT berfirman dalam QS 21:107, yang artinya “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam.”  Rahmat yaitu yang mensejahterakan, termasuk di dalamnya menyehatkan.  Hal ini karena Allah SWT yang Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Benar dan tidak mempunyai kepentingan terhadap manusia  telah menciptakan peraturan-peraturan bagi manusia demi kepentingan (kemaslahatan) manusia, termasuk membebaskan semua orang dari ancaman bahaya HIV/AIDS

Agenda pokok Khalifah untuk membebaskan masyarakat dari epidemi HIV/AIDS dengan melakukan upaya penyelamatan jiwa yang terkena serangan. Ada dua program yang dapat dilakukan oleh Khilafah, yaitu, Pertama upaya preventif untuk memutuskan rantai penularan agar kuman tersebut tidak menyebar pada orang-orang yang sehat. Dan kedua, upaya kuratif, yaitu mengobati masyarakat yang  terinfeksi HIV.

 

 a.     Upaya Preventif

Upaya preventif yang dimaksud dalam hal ini adalah perubahan perilaku yang liberal menjadi perilaku yang sesuai dengan syariat Islam. Upaya ini penting karena transmisi (media penularan yang utama) penyakit HIV/AIDS berkaitan erat dengan perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkoba. Oleh karena itu pencegahannya harus  dengan menghilangkan segala bentuk praktek seks bebas dan hal yang memfasilitasinya, meliputi media-media yang merangsang (pornografi-pornoaksi), tempat-tempat prostitusi, klub-klub malam, tempat maksiat  dan pelaku maksiat.

 

Untuk itu, Departemen Luar Negeri Khilafah wajib membatalkan segala konvensi internasional yang membentuk mindset permisif di tengah masyarakat, dan memfasilitasi perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkotika. Negara juga harus melepaskan diri dari kebijakan-kebijakan lembaga-lembaga internasional dalam hal ini WHO, UNAIDS, UNDOC, karena terbukti semakin menguatkan ancaman bahaya HIV dan seks bebas.

Sementara itu dalam Negeri, Khalifah menerapkan Islam secara kaafah, yaitu sistem pendidikan Islam yang akan membentuk individu yang berkepribadian islam; sistem ekonomi Islam yang menyejahterakan semua orang serta menjauhkan dari segala perbuatan maksiat termasuk bisnis/mafia prostitusi dan narkoba; menerapkan sistem pergaulan Islam yang membersihkan masyarakat dari perilaku seks bebas dan akhlak yang rendah; menerapkan sistem sangsi yang sesuai syariat yang membuat masyarakat takut dan berhati-hati melanggar aturan Allah SWT.

Karena itu Khalifah melarang perzinahan termasuk berduaan tanpa ada kepentingan yang dibolehkan syara’ dan untuk menegakkan aturan itu, perlu dijatuhkan sangsi bagi pelanggarnya. Yang demikian karena Islam mengharamkan perbuatan ini, sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang artinya “Jangan sekali-kali seorang lelaki dengan perempuan menyepi (bukan muhrim) karena sesungguhnya syaithan ada sebagai pihak ketiga” (HR Baihaqi). Adapun larangan perbuatan zina, Allah SWT sampaikan pada QS 17:32 yang artinya, “Janganlah kalian mendekati zina karena sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan”.

 

Segala celah bagi hadirnya perilaku homoseks, baik gay (laki-laki dengan laki-laki) maupun lesbian (perempuan dengan perempuan) wajib ditutup. Karena Allah SWT mengutuk kedua perbuatan ini, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS 7:80-81, yang artinya “Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: Mengapa kamu mengerjakan perbuatan kotor itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun manusia (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita. Bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”.

 

Khilafah akan melarang pria dan wanita melakukan perbuatan-perbuatan yang membahayakan akhlak dan merusak masyarakat, termasuk pornografi dan pornoaksi. Karena Islam melarang seorang pria dan wanita  melakukan kegiatan  dan pekerjaan yang menonjolkan sensualitasnya. Rafi’ ibnu Rifa’a pernah bertutur demikian, yang artinya “Nabi SAW  telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan  wanita kecuali yang dikerjakan oleh kedua tangannya. Beliau bersabda “Seperti inilah jari-jemarinya yang kasar sebagaimana halnya tukang roti, pemintal, atau pengukir.

 

Penyalahgunaan narkoba termasuk sesuatu yang dapat menghilangkan akal dan menjadi pintu gerbang dari segala kemaksiatan termasuk seks bebas. Sementara seks bebas inilah media penting penyebaran virus HIV/AIDS. Selain itu, penyalahgunaan narkoba itu sendiri juga menjadi media penting penularan HIV/AIDS. Oleh karena itu, segala hal yang dapat menjerumuskan setiap orang pada penyalahgunaan narkoba tidak dibolehkan. Islam mengharamkan khamr dan seluruh benda yang memabukkan serta mengharamkan narkoba. Rasulullah SAW  bersabda yang artinya, “Setiap yang menghilangkan akal itu adalah haram” (HR. Bukhori Muslim).

 

Karena aktivitas seks bebas, penyalahgunaan narkoba, serta segala yang memfasilitasi keduanya adalah haram (aktivitas kriminal/kejahatan), maka Islam telah menentukan sangsi bagi pelakunya. Yaitu berupa hukuman rajam bagi pezina muhshan (sudah menikah), dan hukum bunuh bagi pelaku homoseksual. Hal ini dengan sendirinya akan memutuskan rantai penularan  dari pengidap HIV pelaku maksiat ini. Ini adalah bentuk upaya pencegahan penyebaran kuman infeksi menular seksual seperti HIV/AIDS oleh Departemen Peradilan.

 

Adapun pelaku maksiat yang memiliki hak hidup, seperti pezina ghoiru muhshan (belum menikah) dan penyalahguna narkoba dihukum cambuk. Para pengedar dan pemilik pabrik narkoba diberi sanksi tegas sampai dengan mati. Semua fasilitator seks bebas; pemilik media porno, pelaku pornoaksi, distributor, pemilik tempat-tempat maksiat, germo, mucikari, backing baik oknum aparat atau bukan, semuanya diberi sanksi yang tegas dan dibubarkan.

 

Khalifah juga menjamin tersedianya lapangan pekerjaan bagi warga negara, sehingga tidak ada lagi alasan bagi mereka yang melakukan maksiyat dengan alasan desakan ekonomi. Pelayanan kesehatan dan pendidikan yang murah atau bahkan gratis, jaminan ketersediaan pangan dan gizi yang berkualitas juga menjadi menjadi prioritas utama Khalifah dalam menjamin terpenuhinya kemaslahatan umat.

 

Khalifah juga mendorong dan memfasilitasi masyarakat untuk hidup bersih.  Membentuk mindset pentingnya kebersihan untuk menghindari penularan penyakit melalui program di berbagai media masa. Secara praktis upaya promosi kesehatan ini dapat dilakukan oleh Departemen Penerangan Khilafah. Khalifah (yang secara praktis dilakukan Departemen terkait) juga menjamin penyediaan fasilitas umum yang sesuai syariat, sehat dan bersih.  Rasulullah SAW bersabda yang artinya, ”Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, Maha Bersih dan mencintai kebersihan, Maha Mulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu, bersihkanlah rumah dan halaman kalian, dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi” (HR At-Tirmidzi dan Abu Ya’la).

 

Demikianlah cara Khilafah melakukan upaya preventif.

 

b.  Upaya Kuratif

Upaya pengobatan yang dilakukan haruslah mengikuti prinsip-prinsip pengobatan yang sesuai dengan syariat Islam, antara lain tidak membahayakan, tidak menggunakan bahan-bahan yang diharamkan, mendorong dan memfasilitasi penderita untuk semakin taqwa kepada Allah SWT.

 

Khalifah wajib memberikan pengobatan gratis bagi para penderita HIV yang memiliki hak hidup. Selain gratis, juga mudah dijangkau semua kalangan dan dalam jumlah memadai. Karena kesehatan termasuk kebutuhan pokok publik yang wajib dijamin pemenuhannya oleh Negara. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya, “Imam (Khalifah) laksana penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR Al-Bukhari).

 

Hanya saja haruslah dilakukan skrining masal terlebih dahulu untuk mengetahui pengidap yang tidak terlihat sebagai pengidap HIV, sementara itu ia bisa menularkan kuman HIV dan kuman HIV sudah “tersebar” di tengah masyarakat.

 

Upaya kuratif ini dilakukan oleh Departemen Kemaslahatan Umat, Bidang Kesehatan. Dalam hal ini dibutuhkan tenaga medis yang profesional di bidangnya, seperti dokter, perawat, laboran, apoteker.

 

Departemen industri bidang farmasi dan peralatan medis harus difasilitasi untuk memproduksi peralatan medis, obat-obatan yang dibutuhkan untuk pengobatan HIV.  Industri farmasi juga harus didorong untuk memproduksi sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk rapid test.

 

Khalifah juga wajib memotivasi dan memfasilitasi para ahli di bidang biomedik, para dokter, dan ahli farmasi untuk menemukan obat HIV yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Karena sesungguhnya setiap penyakit pasti ada obatnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat yang tepat diberikan, dengan izin Allah, penyakit itu akan sembuh” (HR Ahmad dan Hakim). Selain itu, Khalifah juga harus memutuskan dan mencabut segala perjanjian yang bersifat mengebiri dan menjajah Indonesia di bidang industri farmasi dan kesehatan.

 

Dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit pada orang yang sehat, Khalifah wajib menyediakan rumah sakit atau tempat perawatan khusus bagi pasien penderita HIV yang memiliki hak hidup, seperti penderita HIV akibat efek spiral (istri yang tertular dari suaminya, anak yang HIV karena orang tuanya pengidap HIV, pakibat transfusi, dll).  Selama masa perawatan, pengidap penyakit diisolasi dari orang yang sehat, sedemikian rupa sehingga penularan dapat dicegah. Hal ini karena Rasulullah SAW  bersabda, yang artinya: “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menularkan kepada yang sehat” (HR Bukhari). Demikian pula sabda beliau, yang artinya “Apabila kamu mendengar ada wabah di suatu negeri, maka janganlah kamu memasukinya dan apabila wabah itu berjangkit sedangkan kamu berada dalam negeri itu, janganlah kamu keluar melarikan diri” (HR. Ahmad, Bukhori, Muslim dan Nasa’i dari Abdurrahman bin ‘Auf).

 

Hanya saja, selama diisolasi (dikarantina), segala kebutuhan pengidap HIV haruslah tetap dipenuhi.  Mereka harus tetap dapat berinteraksi dengan orang-orang tertentu di bawah  pengawasan, dijauhkan dari media serta aktivitas yang mampu menularkan. Juga harus diupayakan rehabilitasi mental (keyakinan, ketawakalan, kesabaran) sehingga mempercepat kesembuhan dan memperkuat ketaqwaan. Perkembangan ilmu psikoneuroimunologi telah membuktikan bahwa kesehatan mental mengantarkan pada 50% kesembuhan.

 

Dengan Syariah dan Khilafah: Semua Bebas HIV/AIDS

Demikianlah, solusi yang dipaksakan oleh negara-negara Kafir Barat melalui lembaga-lembaga dunia bertujuan menghancurkan generasi Islam dan negeri-negeri muslim (genosida). Hal ini terbukti dengan solusi yang diberikan untuk memberantas penyakit AIDS tidak memberantas faktor penyebab utama (akar masalah) atau menghilangkan media penyebarannya yaitu seks bebas. Solusi yang diberikan untuk memberantas AIDS justru memperluas penyebaran AIDS. Ada indikasi kuat bahwa penyakit itu sengaja diciptakan untuk depopulasi dan juga justru mengokohkan penjajahan Kapitalis di negeri-negeri Muslim. Tidak mungkin kita berharap pada lembaga-lembaga  Internasional yang telah terbukti menjadi alat penjajahan Barat.

 

Islam membebaskan masyarakat dari epidemi HIV/AIDS, bahkan menyehatkan masyarakat seutuhnya. Karena sungguh, Islam adalah rahmat bagi semua, baik muslim maupun non muslim. Bagaimana kehidupan Islam menjadikan semua orang terbebas dari epidemi HIV/AIDS disederhanakan pada gambar berikut.

 

 

Gambar  SEQ Gambar \* ARABIC 5. Kehidupan Islam (Khilafah): semua bebas epidemi HIV/AIDS

 

Barangkali akan muncul pertanyaan, bagaimana mungkin kita bisa melakukan semua agenda yang diemban khilafah untuk menyelamatkan generasi dari HIV/AIDS dan menyehatkan masyarakat tersebut. Dari mana sumber daya baik dana maupun tenaga untuk agenda besar itu diperoleh. Mungkin sempat tebersit sikap pesimis, rasanya mustahil melihat parahnya kondisi negeri ini saat ini.

 

Sebenarnya semua itu saat ini sangatlah mungkin. Karena sesungguhnya, kita (negeri-negeri muslim seecara umum, maupun Indonesia khususnya) memiliki SDM yang unggul, misal ahli biomedik, biologi molekuler, teknik kimia, farmasi, yang berpotensi menjadi pakar masa depan dalam pembangunan senjata biologi Daulah. Pelaksanaan sistem pendidikan berdasarkan aqidah Islam akan mempercepat proses penyediaan SDM yang dibutuhkan.

 

Jelas untuk melakukan dua agenda di atas dibutuhkan anggaran yang besar.  Pengelolaan baitul maal yang efektif yang ditopang dengan berjalannya sistem perekonomian yang sesuai syariat Islam, memungkinkan negara mampu membiayai berbagai kebutuhan yang diperlukan. Apalagi Indonesia memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah, yang merupakan salah satu pos pemasukan keuangan negara yang sangat penting dan strategis.

Anggaran untuk pos jihad dapat diambil dari sumber pemasukan baitul maal mana saja, yang meliputi fa’i dan kharaj (rampasan perang); harta milik umum; dan zakat.  Bahkan ketika kas baitul maal kosong, sementara agenda kedua tidak bisa ditunda, maka Khalifah bisa mengambil tabaru’at (infaq sukarela) dari kaum muslimin.  Jika masih tidak mencukupi, Daulah dibolehkan menetapkan kewajiban pajak dalam rangka memenuhi anggaran yang dibutuhkan. Adapun anggaran untuk melakukan upaya preventif dan kuratif salah satunya bisa diambil dari pos pemasukan pemilikan umum.

 

Satu hal yang perlu disadari bagi seorang muslim, kepentingan kita untuk hidup dalam sistem kehidupan Islam bukanlah semata-mata karena dorongan menyelamatkan generasi dari ancaman HIV, serangan senjata biologi AS maupun agar terbebas dari seks bebas. Setiap kita adalah ‘dokter’, baik dalam kapasitas sebagai teman, anak, orang tua, tetangga, pengajar, klinisi, maupun peneliti, yang bertanggung jawab atas derajat kesehatan masyarakat kita. Kita jelas tidak akan menunggu hingga penyakit ini mengetuk pintu rumah kita –na’udzubillah. Terlebih sebagai muslim, Rasulullah telah ingatkan kita bahwa siapa saja tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka tidak termasuk dalam bagian kaum muslimin (HR. Thabrani dari Abu Dzar al-Ghifari). Memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam adalah kewajiban yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, karena sesungguhnya kaum muslimin hanya boleh hidup tanpa khilafah paling lama tiga hari saja. Dan sekarang sudah 87 tahun sang perisai itu tidak ada di tengah-tengah kita.  Sungguh kita merindukannya. Semoga melalui upaya ini Allah SWT mendekatkan pertolongan-Nya, memenuhi janjinya, kembalinya Khilafah Rasyidah kedua dalam waktu dekat. Amien ya Allah.

 

Allahu a’lam bish shawab.

Posted on Desember 23, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: