Membentuk Keluarga Muslim Sejati Menuju Peradaban yang Sejahtera dan Bermartabat

Pengantar 

Keluarga adalah tempat pertama bagi setiap manusia memahami makna hidup.  Keluarga pula yang menjadi tempat pembinaan generasi calon pemimpin umat.  Tak disangsikan, peran orangtua yang vital dalam keluarga menjadi kunci kesuksesan keluarga, masyarakat dan bangsa.  Tak hanya itu, kesuksesan keluarga membina generasi pemimpin akan membawa pengaruh pada pembentukan peradaban dunia.  Sebab, dalam keluargalah sang calon pembangun peradaban (yaitu anak-anak) mendapatkan pendidikan pertamanya.

Sebagai lembaga terkecil dalam masyarakat yang memegang peranan penting, keluarga mempunyai setidaknya 8 (delapan) fungsi.  Pertama, fungsi reproduksi, yaitu dari keluarga dihasilkan anak keturunan secara sah.  Kedua, fungsi ekonomi yaitu keluarga sebagai kesatuan ekonomi mandiri, anggota keluarga mendapatkan dan membelanjakan harta untuk memenuhi keperluan.  Ketiga, fungsi sosialisasi, yaitu untuk memperkenalkan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.  Keempat, fungsi protektif, yaitu bahwa keluarga melindungi anggotanya dari ancaman fisik,ekonomis dan psiko sosial. Kelima, fungsi rekreatif, artinya keluarga merupakan pusat rekreasi bagi para anggotanya.  Keenam, fungsi afektif, bahwa keluarga memberikan kasih sayang.  Ketujuh, fungsi edukatif, yaitu memberikan pendidikan.  Kedelapan, fungsi relijius, artinya keluarga memberikan pengalaman keagamaan kepada para anggota.

Melihat betapa banyaknya aspek yang bisa diberikan oleh keluarga, maka bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi bila institusi ini terancam.  Disfungsi keluarga akan mengakibatkan instabilitas masyarakat dan bukan tidak mungkin masyarakat akan berjalan menemui kehancurannya.  Sayangnya, inilah yang saat ini tengah terjadi pada keluarga muslim di negeri ini.  Bukan hanya disfungsi, mayoritas keluarga muslim juga mengalami disorientasi.  Jangankan memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa, mereka bahkan lebih disibukkan oleh berbagai persoalan yang membelit atau pun berbagai aktivitas yang kontra produktif bagi pembangunan bangsa.

Prihatin, inilah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi keluarga saat ini.  Tren perceraian keluarga cenderung meningkat tak terkecuali di Indonesia.   Menteri Agama, Muhamad Maftuh Basuni, pernah menyatakan pada saat penganugerahan juara Keluarga Sakinah Teladan dan Kepala KUA Percontohan tahun 2008 bahwa sejak 2005 diperoleh data bahwa dari 2 juta pernikahan setiap tahun, 12-15% berakhir dengan perceraian dan 80% diantaranya terjadi pada perkawinan di bawah 5 tahun. (sumber: http:/publikasi.umy.ac.id/index.php/komunikasi/article/ view/1580/762 ).

Dengan kecenderungan yang terus meningkat, bisa dibayangkan bagaimana statistik perceraian pada tahun 2011 ini, tentu jauh lebih besar lagi.  Bahkan di Klaten, angka perceraian di bulan September 2011 meningkat 300% dibanding bulan sebelumnya dan didominasi oleh gugat cerai dari pihak isteri (republika.co.id, 06/10/2011). Sementara di kota Depok, gugat cerai dari pihak isteri mencapai 70% dari kasus perceraian yang ada (Antaranews.com, 12 Mei 2011). Alasan yang sering dikemukakan adalah problem ekonomi keluarga, perselingkuhan, ketidakcocokan pribadi, KDRT, hingga poligami yang tidak tepat.

Kerapuhan keluarga tentu berimbas pada nasib anak.  Berdasarkan data survei Komnas Perlindungan Anak tahun 2009 tercatat bahwa 62,7% siswi SMP di Indonesia sudah tidak perawan lagi, sedangkan 93,7% pernah melakukan ciuman (Suara merdeka Cybernews, 23 Oktober 2010). Sementara data anak yang melakukan tindak kriminal sebesar 1258 kasus (tempointeraktif.com, 31 Januari 2010).  Bahkan, 70 % dari 4 juta pengguna narkoba adalah anak sekolah(detiknews.com, 29/07/2009) dan terdapat 21 juta anak di Indonesia yang menjadi perokok (tempointeraktif.com, 10 Mei 2011).  Di samping itu, krisis ekonomi telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin meningkat yang menyebabkan peningkatan jumlah kelompok rentan termasuk anak telantar dan anak jalanan.

Di sisi lain, tekanan ekonomi dan pemiskinan struktural memaksa keluarga muslim terfokus pada fungsi ekonomi, dengan keterlibatan istri sebagai pencari nafkah.  Maraknya program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dan Keluarga Berencana merupakan bagian dari program unggulan dan solusi praktis yang dinilai tepat dalam mengantisipasi kesulitan hidup. Ibarat gayung bersambut, program-program ini telah disambut dengan suka cita oleh keluarga-keluarga muslim. Kemandirian perempuan dan kebebasannya dalam menentukan nasib sendiri merupakan target yang harus dibangun dari program-program ini.  Di samping itu, dampak kemiskinan juga berimbas pada meningkatnya jumlah TKW dan fenomena ibu bekerja.  Walhasil, meski semua itu seakan mengangkat ekonomi keluarga, namun sesungguhnya  bahaya  lain telah mengancam.  Fenomena ini bukan saja bisa menjadi pemicu perceraian, namun juga terabaikannya kewajiban ibu dan keluarga sebagai pendidik dan sekolah bagi anak-anak di rumah.

Buruknya kondisi keluarga juga diperparah dengan maraknya propaganda tentang profil keluarga kecil dengan atribut-atributnya yang dianggap sebagai sarana efektif guna menekan laju pertumbuhan penduduk muslim.  Anggapan memiliki anak lebih dari dua seolah hal yang tabu dan menggoyahkan keyakinan untuk bisa menghidupi dan memberikan pendidikan yang baik.  Kemandirian perempuan, juga jumlah anak yang hanya dua menjadikan keluarga-keluarga muslim ini mudah untuk mengambil keputusan bercerai tatkala persoalan rumah tangga muncul.

Sementara itu, akibat ketiadaan suami, baik karena perceraian maupun konflik politik, terjadi peningkatan jumlah perempuan kepala keluarga sebesar  0,1 persen per tahun dimana pada tahun 2007 mencapai 13,3 % atau 6 juta rumah tangga (Data Susenas Indonesia dalam www.satuportal.net).

Inilah potret keluarga negeri ini yang mayoritas berpenduduk muslim.  Persoalannya, apakah kondisi ini semata disebabkan faktor internal keluarga, yaitu hilangnya arah dan prinsip-prinsip syar’i dalam tuntunan berkeluarga ?  Ataukah ada faktor eksternal yang berpengaruh bahkan manjadikan lingkungan masyarakat yang tidak memberi iklim kondusif bagi keberlangsungan fungsi-fungsi keluarga yang benar?   Inilah persoalan yang seharusnya dipahami oleh setiap komponen umat guna mewujudkan kembali profil keluarga muslim sejati, pondasi bagi peradaban bangsa di masa yang akan datang.

Problem Keluarga, Problem Ideologis

Bila dicermati berbagai persoalan yang menimpa keluarga muslim saat ini tidak lepas dari persoalan jauhnya keluarga dari Islam sebagai tuntunan hidup.  Secara internal, keluarga telah banyak kehilangan nilai-nilai Islam.  Saat ibu yang seharusnya menemani dan membimbing anak-anak tidak lagi berada di samping anak-anak –karena bekerja misalnya- maka anak-anak tumbuh tanpa bimbingan moral sang ibu.  Beruntung jika ada orang tua yang mampu memilihkan guru pembimbing agama untuk anak-anaknya, namun hal itu tentu amat jarang terjadi.  Kemiskinan yang menghimpit menjadikan orang tua lebih disibukkan untuk urusan perut ketimbang pembinaan agama.  Jangankan untuk anak-anaknya, baik ayah maupun ibu pun tak pernah sempat memikirkan sejauh mana mereka mampu merepresentasikan diri secara baik sebagai hamba Allah SWT.  Banyak keluarga muslim yang kini tumbuh berbekal KTP muslim namun tidak menjunjung syariat Islam.

Kelemahan yang dialami individu anggota keluarga pun dilengkapi oleh sistem dan masyarakat yang tidak kondusif pelaksanaan hukum-hukum agama.  Sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama (Islam) dengan kurikulum dan metode pembelajaran di sekolah menghasilkan peserta didik yang mandul dari pelaksanan ajaran agama.  Mereka mungkin cerdas dalam hal sains, tapi bodoh dalam beribadah dan berakidah yang lurus.  Kerusakan moral yang banyak dialami pelajar saat ini tentu tak lepas dari rusaknya sitem pendidikan yang saat ini diberlakukan di negeri ini.  Itulah hal-hal yang mempengaruhi kondisi internal keluarga sehingga mereka kehilangan jatidirinya sebagai keluarga muslim.

Secara eksternal, problem keluarga juga dipengaruhi kondisi global yang mengungkungnya.  Globalisasi dengan makna kapitalisasi dan liberalisasi memberikan andil yang signifikan bagi arah perubahan dunia di era millennium ini. Globalisasi juga telah suskes menancapkan nilai sekulerisme dan materialisme yang sarat dengan budaya hedonis dan permisif  ke tengah keluarga.  Istri yang berani pada suami, anak yang membangkang pada orang tua dianggap sebagai kemajuan yang layak mendapatkan perlindungan hukum. Ditambah lagi serangan budaya pergaulan bebas di luar rumah, memberi peluang bagi pasutri untuk mencari kenyamanan di luar rumah setiap kali mengalami konflik keluarga.  Senyatanya, keluarga kini tengah berlomba-lomba mengejar kehidupan duniawi sementara mereka melupakan rambu-rambu Allah SWT atas kehidupan ukhrawi yang bakal mereka lalui kelak.

Globalisasi juga meniscayakan adanya sebuah “Grand Design” dunia di bawah satu payung ideologi dalam membangun profil keluarga.  Lahirnya berbagai konvensi internasional tentang perempuan dan kependudukan menunjukkan hal tersebut.  Betapa tidak, adanya keharusan agar tiap negara meratifikasi  semua konvensi internasional tersebut kian menunjukkan adanya pemaksaan ideologi kepentingan negara-negara pengusung kapitalisme yang bersembunyi di balik globalisasi.  Padahal bila dicermati apa yang diratifikasi itu tidak langsung berkaitan dengan kebutuhan dan solusi atas persoalan bangsa.  Apalagi, dalam implementasinya tidak lepas dari pengawalan asing.  Itu semua menunjukkan adanya ‘grand strategi’ bagi keluarga di negeri ini agar berjalan sesuai arahan asing.

Berdasarkan analisas tersebut, dapatlah ditarik benang merah penyebab rusaknya kondisi keluarga di negeri ini.  Senyatanya, sistem sekuler yang menjauhkan Islam dari kehidupan telah menjadikan keluarga terombang-ambing oleh gelombang penghancuran.  Rapuhnya penerapan syariat Islam di internal ditambah serangan yang kuat dari luar menjadikan keluarga rapuh.  Kondisi ini tentu tak akan terjadi jika ideologi Islam hadir di dunia.  Islam menjadi tolok ukur kebenaran, arah kebahagiaan dan standar berbagai kebijakan negara.

Oleh karena itu, sesungguhnya satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarga adalah dengan menegakkan Islam sebagai ideologi umat.  Artinya, secara internal keluarga mengikatkan diri dengan Islam dalam seluruh aspeknya.  Di sisi lain, umat harus mengupayakan berperannya Islam sebagai sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara sehingga mampu menopang tegaknya keluarga muslim sejati yang akan mengantarkan kepada peradaban yang sejahtera dan bermartabat.

Keluarga Muslim Sejati

Keluarga muslim sejati merupakan keluarga muslim yang mengemban Islam dalam membangun kehidupan keluarganya.  Ia dibangun berdasarkan ketaqwaan dalam rangka mencari ridho Allah SWT.   Setiap anggota keluarga menjalankan hak dan kewajiban menurut Islam.   Islam juga dijadikan sebagai standar (landasan) dalam berbuat dan menilai sesuatu.  Islam tidak hanya digunakan untuk mengatur persoalan ritualitas dan peribadatan saja.  Namun, Islam menjadi ruh dan penentu arah kehidupannya.  Mereka mengukur kebahagiaan dengan keridloan Allah SWT, bukan kebahagiaan materi dan duniawi.

Keluarga muslim sejati tidak diukur dari lamanya usia pernikahan, jumlah keturunan dan anggota keluarga, bahkan kesakinahan dalam rumah tangga.  Profil keluarga muslim sejati adalah profil tumpuan peradaban.  Ideologi Islam yang diembannya menjadikan keluarga muslim sejati sebagai mercusuar perjuangan menuju peradaban yang sejahtera dan bermartabat.  Oleh karena itu, keluarga muslim sejati adalah juga keluarga yang memperjuangkan penerapan Islam dalam masyarakat dan negara.

Berikut ini upaya untuk mewujudkan keluarga muslim sejati.  Pertama, membangun ketakwaan keluarga.  Dalam pembentukan sebuah keluarga yakni sejak pernikahan, akidah Islam haruslah menjadi pilar dasarnya.  Akidah Islam harus menjadi asas yang selanjutnya menentukan visi dan misi setiap anggota keluarga dalam mengarungi kehidupan berkeluarga.  Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)” (TQS. Al Anfaal [8] : 20)

Ketakwaan yang dimilki setiap anggota keluarga akan melahirkan sikap tunduk patuh pada ketentuan Allah SWT (syariat Islam).  Tiap anggota keluarga harus menjadikan Islam dan syariatnya sebagai solusi terhadap seluruh permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarganya. Halal-haram dijadikan sebagai landasan dalam berbuat, bukan hawa nafsu.  Keluarga juga tak akan mudah tergoda oleh rusaknya tata kehidupan di sekitarnya.  Bahkan dengan kekuatan akidah, keluarga akan memiliki dorongan yang kuat untuk melakukan amar makruf nahi mungkar manakala menjumpai lingkungan sekitarnya bertentangan dengan hukum-hukum Allah SWT.

Allah SWT berfirman :

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (TQS. Huud [11]:112)

Ayat di atas memerintahkan agar setiap keluarga muslim tetap istiqomah berpegang teguh pada Islam bagaimana pun rumitnya persoalan yang dihadapi keluarga, sebab Allah SWT mengetahui apa yang kita perbuat.  Pengabaian terhadap perintah Allah SWT ini sering membuat anggota keluarga mengambil jalan pintas (yang melanggar syariat) dalam menyelesaikan persoalannya.  Padahal, itulah yang menjadi sumber kerusakan keluarga.

Kedua, membangun tanggung jawab masyarakat dengan kepedulian dan amar makruf nahi munkar baik di tingkat masyarakat maupun terhadap penguasa.    Pembentukan keluarga muslim sejati tidak lepas dari dukungan dan peran masyarakat.  Tatkala masyarakat dan lingkungan keluarga peduli dan turut bertanggung jawab terhadap proses pengokohan prinsip-prinsip Islam dalam berkeluarga, maka hal ini akan memudahkan tiap keluarga memegang teguh prinsip tersebut.  Sebaliknya, jika masyarakat tidak peduli dan membiarkan setiap kemunkaran yang merongrong keberadaan Islam dalam keluarga, maka apa yang telah diupayakan keluarga menjadi sulit dijaga.  Padahal  Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (TQS. At Taubah [9] : 71).

Inilah yang saat ini banyak terjadi.  Penjagaan Islam yang dilakukan oleh internal keluarga menjadi sia-sia karena masyarakat tidak mendukung.  Anak-anak yang dibina keshalihannya di dalam keluarga tercemar oleh lingkungan yang tidak terjaga oleh Islam.  Suami atau isteri yang telah mendapatkan hak-haknya di rumah harus terpaksa terjerumus dan menuai kemaksiyatan hanya karena lingkungan yang tidak kondusif.  Kenyataannya, perselingkuhan hingga perceraian lebih disebabkan faktor eksternal keluarga, baik ekonomi, politik, perselingkuhan, dan lain-lain.  Sungguh, kondisi lingkungan di sekitar keluarga sangat berpengaruh terhadap keadaan keluarga.

Ketiga, membangun sistem Islam.  Disadari, memegang teguh prinsip Islam dalam berkeluarga sangat sulit dilakukan pada sistem yang bertentangan dengan Islam.  Oleh karena itu, tantangan terbesar bagi pembentukan keluarga muslim sejati adalah terwujudnya sistem Islam yang diberlakukan penguasa dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.  Sistem ini adalah sistem Khilafah Islamiyyah yang memberlakukan Islam dalam semua bidang baik politik, hukum, ekonomi, sosial, pendidikan, keamanan  dan lainnya.

Allah SWT memerintahkan agar kaum muslim berhukum dengan hukum-hukum Islam dan mencela orang-orang yang menggunakan hukum jahiliyah.  Firman-Nya dalam Al Qur’an :

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.(49).   Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? ” (TQS Al Maidah [5]: 49-50)

Pemberlakuan sistem yang diturunkan Allah SWT ini (baca: Sistem Islam)  akan meniadakan keberadaan perundang-undangan yang berpotensi menghancurkan keluarga muslim, juga kemiskinan, kebodohan, ancaman keamanan yang menghimpit keluarga dan sebagainya.  Sistem ini pula yang akan menjaga keluarga dari racun-racun pemahaman keliru yang bisa menghancurkan keluarga.  Sistem inilah yang akan mengarahkan globalisasi pada target membangun peradaban yang sejahtera dan bermartabat.

Itu semua bisa terjadi karena sistem ini lahir dari Zat Yang MahaKuasa dan MahaTahu atas segala sesuatu. Sehingga seluruh persoalan yang dihadapi makhluk-Nya dalam situasi dan kondisi apapun dapat diselesaikan dengan memuaskan, tanpa ada pihak manapun yang dirugikan.  Aturan-aturan tersebut senantiasa sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal manusia yang pada akhirnya akan menenteramkan jiwa manusia.

Allah SWT memerintahkan agar kaum muslim menetapi Islam sebagai agama yang sesuai fitrah melalui firman-Nya :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (TQS. Ar Ruum [30] : 30)

Syariat Islam yang telah diterapkan di masa kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabatnya telah menghantarkan kegemilangan peradaban Islam di muka bumi dan tercatat dalam sejarah kemanusiaan.  Dalam bentangan sejarah dunia, Islam terbukti berhasil mencetak keluarga muslim sejati hingga mengantarkan kepada kebangkitan masyarakat -dari yang sebelumnya hidup dalam kebodohan- dengan kebangkitan yang luar biasa dan tidak pernah bisa ditandingi oleh kebangkitan yang terjadi dalam masyarakat manapun; menjadi sebuah masyarakat mulia, yang mengawali terbentuknya peradaban agung yang maju. Itulah masyarakat Islam pertama dalam naungan Daulah Islam, yang disebut juga Daulah Khilafah pertama di Madinah al-Munawwarah. Selama lebih dari satu milenium, peradaban Islam nan gemilang itu menjadi mercusuar bagi seluruh umat manusia.

Dari uraian di atas, nampaklah langkah strategis yang harus segera diambil oleh setiap keluarga muslim saat ini agar keluar dari persoalannya.  Langkah strategis itu adalah menjadikan syariat Islam sebagai landasan dan patokan dalam membangun kehidupan berkeluarga.  Selanjutnya, menjadikan keluarga sebagai pelaku perubahan di tengah masyarakat yang berjuang untuk menegakkan Sistem Islam (Khilafah Islamiyyah) yang menerapkan Islam.  Sebab, sistem Islam adalah keniscayaan bagi penjagaan keluarga muslim sejati yang akan mengantarkan menuju peradaban yang sejahtera dan bermartabat.

Allah SWT menjanjikan hal tersebut melalui firman-Nya :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (TQS. An Nuur [24] : 55)

Penutup

Menyelamatkan keluarga berarti menyelamatkan peradaban.  Oleh karena itu, membangun keluarga muslim sejati dalam tuntunan syariat Islam kaffah adalah tanggung jawab seluruh umat, tak terkecuali muslimah.  Dengan demikian, kontribusi sekecil apapun hendaknya gigih dilakukan dalam mengupayakan tegaknya panji-panji Allah SWT melalui jalan dakwah Islam. Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (TQS Ali-Imran: 104).

Dengan komitmen ini, mewujudkan keluarga muslim sejati tentu bukan mimpi belaka.  Sebab, kaum muslim telah dimuliakan dengan Islam.  Tinggal bagaimana Islam dihadirkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara, itulah yang akan menentukan.  Semoga keluarga muslim sejati yang akan mengantarkan kepada masyarakat yang sejahtera dan bermartabat dapat segera terwujud.  Aamin ya Robbal ‘Alamiin. []

Posted on Desember 23, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: